Pages

Friday, 19 January 2018

Bersabar Ketika Menghadapi Musibah Dan Dugaan Di Dalam Kehidupan :

Allah SWT dalam firman-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Maksudnya : “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; 'Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, nescaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surah At Taghaabun ayat 11)

Ibnu Katsir mengatakan, “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahawa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan boleh jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 8/137)

Inilah sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Meskipun Allah SWT dengan hikmah-Nya yang Maha sempurna telah menetapkan bahawa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, iaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allah SWT. dalam mengahadapi musibah tersebut. Tentu sahaja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang mukmin.

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah senantiasa disertai dengan sikap redha dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Orang mukmin pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Kerana setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut. Adapun orang-orang kafir, maka mereka tidak memiliki sikap redha dan tidak pula ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya).

10 Kunci Hati & Jiwa Tenang Dan Tenteram.

1. Tidak Membenci .

Dari Anas r.a., bahwasanya Nabi SAW bersabda: "Janganlah engkau semua saling benci-membenci, saling dengki-mendengki, saling belakang-membelakangi dan saling putus-memutuskan - ikatan persahabatan atau kekeluargaan - dan jadilah engkau semua hai namba-
hamba Allah sebagai saudara-saudara. Tidaklah halal bagi seseorang Muslim kalau ia meninggalkan - yakni tidak menyapa - saudaranya lebih dari tiga hari." (Muttafaq 'alaih)

2, Tidak Mengeluh.

Firman Allah SWT maksudnya,“……dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Surah Yusuf ayat 87)

Nabi SAW bersabda maksudnya, "Ada tiga pusaka kebajikan iaitu merahsiakan keluhan, merahsiakan musibah dan merahsiakan sedekah" (Hadis Riwayat Thabrani)

3. Hidup Sedehana .

Allah berfirman :

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Surah al-Furqân (25) ayat 67)

Mereka tidak menghambur-hamburkan wang dengan belanja di luar keperluannya. Juga bukan orang-orang yang bakhil kepada keluarganya, sehingga keperluan bagi keluarganya pun terpenuhi dan tidak kekurangan. Mereka membelanjakan hartanya secara adil. Dan sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah, tidak berlebihan ataupun tidak kikir.

4. Berprasangka Baik.

Firman Allah SWT maksudnya, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang mengumpat sebagian yang lain" (Surah al-Hujurat ayat 12)

5. Selalu Senyum.

Nabi SAW bersabda,
(تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ (رواه الترمذى

“Senyum manismu dihadapan saudaramu adalah sedekah” (HR. Tirmidzi)

6. Selalu Memberi.

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَذْكُرُ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفُّفَ عَنْ الْمَسْأَلَةِ، الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى، وَالْيَدُ الْعُلْيَا الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى السَّائِلَةُ (رواه مسلم)

Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , bersabda : sedangkan baginda berkhutbah di atas mimbar. Baginda menganjurkan sedekah dan melarang meminta-minta. "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan yang di bawah adalah tangan peminta-minta." (HR. Muslim,  no. 1715).

7. Berdoa Tanpa Pengetahuan Mereka.

Dari Abu Hurairah r.a bahawasanya Nabi SAW. bersabda yang bermaksud : "Doa seorang sahabat kepada sahabatnya yang lain kerana Allah dalam tempat yang berjauhan diterima oleh Allah SWT." (Hadis Riwayat Muslim)

8. Tidak Dengki Dan Hiri Hati.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Kamu sekalian, satu sama lain Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi dan janganlah membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Takwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada baginda tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya”. (Hadis Riwayat Muslim no. 2564)

9. Mudah Maafkan.

Firman Allah SWT  yang bermaksud : “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh” (Surah Al-A'raaf ayat 199)

Sabda Rasulullah SAW. yang bermaksud : "Orang yang terkuat di kalangan kamu semua ialah orang yang dapat  mengalahkan hawa nafsunya di ketika dia marah dan orang yang tersabar ialah orang yang suka memberikan pengampunan di saat dia  berkuasa memberikan balasan (kejahatan orang yang menyakitinya)" (Hadis Riwayat Baihaqi)

10. Hindari Permusuhan,

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

تفتح أبواب الجنة يوم الاثنين ويوم الخميس فيغفر لكل عبد لا يشرك بالله شيئا إلا رجلا كانت بينه وبين أخيه شحناء فيقال: أنظروا هذين حتى يصطلحا، أنظروا هذين حتى يصطلحا، أنظروا هذين حتى يصطلحا

“Pintu-pintu syurga dibuka pada hari Isnin dan Khamis. Maka akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, kecuali dua orang laki-laki yang terdapat permusuhan antara dia dengan saudaranya. Maka dikatakan: ‘Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai.’” (Hadis Riwayat Muslim)

Monday, 15 January 2018

Empat Ciri-ciri Untuk Mencapai Martabat Muqarrabin

Martabat Muqarrabin adalah martabat orang yang dekat dengan Allah SWT. Mereka adalah golongan mukmin yang hati dan perasaan hanya kepada Allah SWT. Setiap amalannya penuh khusyuk dan ikhlas kepada Allah SWT.    Mereka adalah golongan sangat dekat dengan Allah SWT. disebabkan pengorbanan mereka dalam menegakkan agama Allah SWT. Bahkan nyawapun sanggup mereka korbankan semata-mata untuk mempertahankan agama Allah SWT. Oleh sebab itu tidak hairan mengapa mereka mendapat kedudukan yang begitu tinggi di sisi Allah SWT.

Abul Aliah mengatakan, “Tidak akan dipisahkan nyawa seorang muqarrabin sebelum dihadirkan kepadanya satu dahan dari kenikmatan syurga, lalu rohnya itu disimpan di sana.” Di dalam sebuah hadis sahih dikemukakan bahawa Rasulullah SAW. dari Ibnu Abbas r.a. menjelaskan bahawa suatu saat Rasulullah SAW bersabda,"Allah telah menjadikan roh saudara-saudaramu yang gugur di medan Uhud berada di dalam rongga burung berwarna hijau yang berada dipinggir sungai di syurga. Burung itu memakan buah-buahan syurga kemudian bertengger di atas lampu-lampu yang terbuat dari emas yang tergantung di bawah Arasy. Saat mereka telah mendapat makanan, minuman, dan tempat tidur yang menyenangkan, mereka berkata, 'Jika saudara kita yang masih hidup di dunia mengetahui apa-apa yang Allah berikan kepada kita, mereka tidak akan meninggalkan jihad di jalan Allah dan tidak akan lari dari medan perang." Lalu turunlah ketiga-tiga ayat ini.(Hadis sahih riwayat Hakim diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, Hakim dan Tirmidzi)
    
Firman Allah SWT maksudnya: “Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang Muqarrabin (didekatkan kepada Allah), (88) maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta syurga kenikmatan.(89) (Surah al-Waqi'ah ayat 88-89)

Perkara yang lengkap dan boleh menyampaikan seseorang itu kepada tujuannya dalam mengikuti jalan Allah ialah dengan berpandukan ciri-ciri yang berikut:

1. Pertama : Bermuhasabah :

Orang berakal yang hendak menyelamatkan dirinya daripada semua kebinasaan, serta ingin pula ianya dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan orang-orang yang muqarrabin dalam semua perjalan dan tindak-tanduknya, apabila ia berazam hendak melakukan sesuatu perkara, sama ada dengan cara perkataan ataupun perbuatan, ia terlebih dahulu hendaklah menyedari bahawa ia akan disoal oleh Allah, tentang perkara itu.

Ingatlah ketika Allah SWT. berfirman yang bermaksud:"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."(Surah al-Hasyr ayat 18)

Oleh itu, ia hendaklah menyediakan jawapan bagi soalan-soalan Allah SWT itu sebelum ia memulakannya. Sekiranya ia rasa bahawa dia boleh memberi jawapan yang betul dan lurus serta diredhai oleh Allah, maka bolehlah ia memulakan perkara itu. Dengan cara demikian, ia akan memperolehi kepujian di dunia dan di akhirat. Sebaliknya kalau ia rasa bahawa jawapannya tidak memuaskan dan tidak akan diredhai oleh Allah SWT, maka ia hendaklah menjauhi diri dari perkara maksiat dan dosa kerana perkara itu akan membawa akibat buruk kepadanya kalau dilakukannya.

Dari Syadad bin Aus r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud : " Orang yang pandai adalah yang menghisab (menilai) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.)
(Hadis Riwayat Tirmidzi , ia berkata, ‘Hadis ini adalah hadis hasan’)

Dasar ini adalah menjadi asas bagi semua perbuatan dan perkataan. Sesiapa yang berpegang teguh dengan dasar ini, maka semua akhlaknya berdasarkan kelurusan, baik pada zahir mahupun batin, dan tidak ada sebarang cacat .

Ingatlah pesanan Saydina Umar al-Khattab r.a :"Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab (Allah) dan timbanglah dirimu sebelum ditimbang (Allah) serta bersiap-siaplah untuk menghadapi hari peperiksaan yang paling besar (hari kiamat)".

2. Kedua : Mengharap redha Allah SWT semata-mata.

Seseorang Muslim tidak patut melakukan sesuatu perbuatan atau melafazkan sesuatu perkataan melainkan kerana mencari keredhaan Allah SWT. Kalaulah seseorang itu bertujuan benar untuk mencari keredhaan Allah SWT dan di samping itu hatinya bersih dari segala tujuan yang lain, serta berpegang teguh dengan dasar ini, ia tetap tidak akan berkata atau melakukan sesuatu perbuatan melainkan setelah ia yakin dan berhemat-hemat. Semua amalannya akan tetap ikhlas.

Inilah maksud firman Allah SWT kepada RasulNya yang amat besar dan kekasihNya  yang amat mulia iaitu Nabi Muhammad SAW dalam surah Al-Kahf ayat 28: yang bermaksud, "Dan bersabarlah kamu hai Muhammad bersama-sama dengan orang-orang yang menyerukan Tuhan mereka di waktu pagi dan petang dengan mengharapkan keredhaan Allah."

Dan firman Allah SWT dalam surah Al-Lail ayat 9: yang bermaksud, "Pada hal tidak ada padanya budi seorang yang patut dibalas melainkan kerana hendak mencari keredhaan Tuhan yang maha Tinggi dan Tuhannya akan meredhainya."

3. Ketiga : Mengeratkan Silaturrahim.

Seseorang Muslim, hendaklah mempunyai penuh perasaan belas kasihan kepada semua saudara Muslim tanpa beza-membeza di antara kaya dan miskin, berpangkat atau tidak berpangkat. Ia hendaklah menyempurnakan segala hak mereka sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Islam seperti memulia, menghormati dan menolong mereka. Kalaulah ia berpegang teguh kepada dasar ini dengan tulus ikhlas nescaya Allah akan melimpahkan cahaya dan rahmatNya ke atas seluruh jasadnya, dan dianugerahkan pula rasa kemanisan rahmat itu. Orang seperti ini akan mendapat habuan yang banyak dari pesaka kenabian yang terkandung di dalam firman Allah SWT, Surah Al-Ambiyaa', ayat 107.yang bermaksud,  "Tidak kami utuskan engkau hai Muhammad melainkan kerana rahmat kepada sekalian alam."

Rasulullah SAW. bersabda: Rahim (tali persaudaraan) itu digantungkan pada Arsy, ia berkata: "Barang siapa yang menyambungku (berbuat baik kepada kerabat), maka Allah akan menyambungnya dan barang siapa yang memutuskan aku, maka Allah pun akan memutuskannya." (Hadis Shahih Riwayat Muslim)

Hadis riwayat Jubair bin Muth`im ra.:Dari Nabi SAW  bahwa beliau bersabda: "Tidak akan masuk Syurga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan."
(Hadis Shahih Riwayat Muslim )

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:Aku pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: "Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi)." (Hadis Shahih Riwayat Muslim)

4. Keempat: Menyempurnakan Akhlak.

Terdapat sekian banyak dalil yang membuktikan bahawa akhlak yang mulia merupakan ciri-ciri seorang mukmin. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkenaan ciri-ciri akhlak Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

Firman Allah SWT maksudnya, "Dan bahawa sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) mempunyai akhlak yang amat mulia. (Surah al-Qalam (68) ayat 04)

Seterusnya Allah menyuruh kita meneladani akhlak Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut:

"Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik,iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredhaan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat,serta ia pula menyebut dan mengingati Allah banyak-banyak (dalam masa susah dan senang).(Surah al-Ahzab (33) ayat 21)

Antara tujuan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam diutuskan adalah menyempurnakan akhlak yang mulia dan sahih:

Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang shalih.
[ Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Adab al-Mufrad, hadis no: 273 (Bab akhlak yang baik).]

Akhlak yang mulia mencerminkan kesempurnaan iman:

Nabi SAW bersabda maksudnya, "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.[Hasan Sahih: Dikeluarkan oleh al-Tirmizi dan dinilai hasan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan al-Tirmizi, hadis no: 1162 (Kitab al-Radha’, Bab berkenaan hak wanita ke atas suaminya).]

Dasar ini merupakan pati dan intisari agama Islam. Maksudnya, seseorang hamba Allah hendaklah bersifat lemah lembut terhadap keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum Muslimin.

"Ahli syurga ialah tiap-tiap orang yang bersifat lemah lembut dan mudah kira bicara, sedangkan ahli neraka pula ialah tiap-tiap orang yang kasar dan keras." Lalu sahabat-sahabat bertanya, apakah yang dimaksudkan dengan keras itu Hai Rasulullah? Baginda menjawab, ialah orang yang bersikap kasar terhadap keluarga, sahabat handai dan terhadap kaum kerabatnya sendiri.

Firman Allah SWT maksudnya, "... Dan katakanlah kepada manusia dengan perkataan yang baik ... " iaitu tidak mengatakan sesuatu yang keji. (Surah al-Baqarah ayat 83)

Ini bererti bahawa bukan sahaja dikehendaki mengatakan perkataan yang baik malah yang lebih baik daripada itu.

Pendeknya apa saja perkataan dan perbuatan baik yang kamu suka dikata atau dibuat orang kepada kamu, maka kata dan buatlah kepada makhluk-makhluk Allah SWT.  Sebaliknya apa yang kamu benci dari orang lain terhadap diri kamu, baik perkataan ataupun perbuatan yang keji, maka hendaklah kamu jauhinya kerana Allah SWT akan berbuat kepada hambaNya mengikut sifat dan perangai hamba itu terhadap makhlukNya. Balasan Allah terhadap sesuatu sifat hamba adalah dengan bentuk yang sesuai dan sewajar dengannya.

Oleh itu marilah kita berusaha menjadi mukmin yang muqarrabin dan di kasihi oleh Allah SWT. Buangkan segala sifat sombong, ego, bangga diri dan sifat-sifat mazmumah dan hiasailah akhlak kita dengan sifat-sifat mahmudah.

Sunday, 14 January 2018

BERSYUKURLAH KITA DIPILIH OLEH ALLAH

Bersyukurlah kita kepada Allah سبحانه  وتعالى apabila Allah memberikan hidayah kepada diri kita untuk kita ini nak kembali bertaubat kepada Allah سبحانه  وتعالى, lidah kita selalu nak berzikir, hati kita selalu mengingati kepada Allah, kaki kita mudah nak mari solat berjemaah, hadir mendengar majlis ilmu dan sebagainya.

Itu tandanya Allah sayangkan kepada kita dan Allah nak berikan kebaikan kepada kita. Hidayah itu mahal, Islam itu mahal, iman itu mahal, yakin itu mahal. Tidak semua orang boleh mendapatkannya sebab itu Allah سبحانه  وتعالى berikan dunia ini kepada semua orang.

Tidak kira orang beriman ataupun orang kafir pun. Semuanya dapat rezeki daripada Allah سبحانه  وتعالى tapi di dalam melibatkan urusan akhirat ini Allah hanya berikan kepada sesiapa yang Allah kehendaki. Orang yang Allah sayangkan sahaja.

Macam Rasulullah ﷺ yang sayang pada ayah saudara Baginda ﷺ tapi tetap Rasulullah ﷺ tidak dapat memberikan syafaat, tidak dapat memberikan Islam kepada ayah saudara Baginda Nabi ﷺ. Sebab apa?

Kerana Allah سبحانه  وتعالى punya hak memberikan hidayah. Begitu juga kita yang memberikan makan kepada keluarga kita, pakaian, nafkah, menunaikan amanah kita dan sebagainya tapi yang selebihnya Allah سبحانه  وتعالى yang punya kerja untuk nak berikan hidayah ataupun tidak.

Kerja kita cuma tunjukkan sesuatu yang baik, contoh, ikutan yang mana kita boleh menjadi asbab turunnya hidayah Allah سبحانه  وتعالى kepada orang-orang di sekeliling kita dan jangan kita putus asa untuk berdoa dan berdoa kerana doa itu adalah senjata utama kita. nasihatlah dengan penuh berhikmah tanpa melukakan hati siapa-siapa.

[USTAZ HANIF HARON HAFIDZOHULLAH]

JANGAN TAKJUB DENGAN AMAL SYARIAT SEMATA-MATA (Tapi pandanglah dengan pandangan basirah/mata hati).

Suatu ketika seorang sufi Abu Bashir sedang berdiri dekat Ka’bah seraya menjuruskan pandangannya kepada orang ramai yang sedang bertawaf, dia terpegun kerana begitu banyaknya orang yang mengerjakan tawaf sehingga kedengaran suara gemuruh takbir, tahmid, tasbih serta do’a, lalu terlintas dalam benaknya tentulah mereka itu mendapat keampunan di sisi Allah s.w.t.

Sejurus kemudian datanglah Imam Ja’far Shaddiq seorang sufi besar dan terkenal keturunan Rasulullah s.a.w dan dia mengetahui apa yang terlintasdi dalam benak anak muridnya itu lantas berkata kepada Abu Bashir;

"Pejamkanlah matamu wahai Abu Bashir...!"

Dengan rasa kebingungan yang mendalam akhirnya Abu Bashir menuruti dan patuh ke atas apa yang diperintahkan oleh gurunya itu.

Kemudian Imam Ja’far Shaddiq mengusap wajah Abu Bashir dan berkata;

Sekarang bukalah matamu wahai Abu Bashir dan lihat kembali kepada orang ramai yang sedang bertawaf itu...

Setelah Abu Bashir membuka matanya, alangkah terperanjat dia tiada terkira karena sekarang apa yang dilihatnya (setelah terbuka hijab hati) hanyalah sekumpulan orang-orang yang berkepala binatang sedang melakukan tawaf, di antara mereka ada yang menyalak, mengaum, mengembik dan mengerang.

Sambil diliputi rasa hairan, kebingungan dan gerun ketakutan dia kemudian bertanya kepada gurunya;

Apa yang sebenarnya yang terjadi ini wahai guruku...?

Maka Imam Ja’far Shaddiq menjelaskan;
"Pada kali pertama yang engkau lihat itu adalah sifat wujud jasad atau luaran mereka sahaja yang sedang bertawaf, dan pada kali kedua yang engkau lihat adalah sifat batin/rohaniah atau darjat hati mereka".

Lalu Abu Bashir bertanya lagi;
Kenapa boleh terjadi hal yang demikian wahai guru? Pada hal mereka sedang berhaji, dan kelihatan mereka itu sedang bertakbir, bertahmid dan bertasbih mengagungkan Allah s.w.t.".

Dan dijawab oleh Imam Ja’far Shaddiq;
"Apa yang mereka ucapkan dengan lisan mereka tidak selaras dengan apa yang dihayati  dalam hati mereka (ikhlas). Apa yang mereka usahakan tidak pernah ditujukan kepada Allah s.w.t. dengan ikhlas,   tetapi keduniaan yang mereka tuju. Hati mereka sentiasa lalai dari mengingati Allah sw.t kerana terhijab dengan sifat-sifat keji lantas kehidupan duniawi sentiasa diperhitungkan, ilmu syariat dan ilmu akidah yang dilonggokkan pada akal pula tidak dapat dipergunakan semasa mengerjakan amal ibadat dan hati mereka tenggelam dalam lautan lalai (kesesan). Sesungguhnya Allah s.w.t Maha Mengetahui apa yang terlintas di dalam diri ummahNya samada zahir maupun batin.

Oleh sebab itu luruskan akidahmu karena Allah dan Rasul-Nya dan  pasrah berserah dirimu untuk diaturkan oleh Allah sw.t dengan segala ketentuan-Nya dengan niat yang suci. Oleh itu, kesempurnaan hati/akidah itu menjadi penentu awal serta akhir dari segala perjalanan amal ibadah seseorang hamba.

Jelas kepada kita bahawa sesuatu amal ibadah yang baik diperlihatkan pada zahir itu belum tentu mendapat keredaanNya, jangan kita takjub dengan sifat zahir sesuatu, tetapi telitilah sesuatu itu dengan pandangan basirah.

YA ALLAH, LINDUNGI KAMI SEMUA DARI  SIFAT LALAI DARI MENGINGATI MU DAN BERSIHLAH HATI KAMI DARI SIFAT-SIFAT MAZMUMAH YANG TERLALU MEMIKIRKN URUSAN DUNIAWI....

Fasal Pada Menyatakan Setengah Perkara Daripada Yg Ta'alluq Pada Solat

(Siri ٣) Terjemahan kepada bahasa melayu

Bermula jangan terdahulu tumit makmum kepada pihak kiblat daripada tumit imam jika sembahyang berdiri. Dan jangan terdahulu pinggang makmum daripada pinggang imam jika ada ia sembahyang berduduk. Dan jangan terdahulu lambung makmum daripada lambung imam jika ada ia sembahyang berbaring yg tetap.

Jika bersamaan tumit makmum dengan tumit imam, sahlah sembahyang makmum tetapi makhruh dan tiada diperolehnya fadhilat berjama'ah. Dan disunatkan bagi makmum yg lelaki, berdiri terkebelakang sedikit daripada imamnya kerana menyatakan martabat imam.

(Syahdan) sunat bagi seorang makmum yg lelaki, jikalau ada ia kanak-kanak sekalipun bahawa berdiri ia pada pihak kanan imamnya serta terundur sedikit. Dari kerana jika berdiri makmum yg seorang dibelakang imam atau dikirinya, nescaya adalah ia makruh lagi meluputkan fadhilat berjama'ah. Maka jika datang pula seorang makmum yg lain, maka sunat ia berdiri pada pihak kiri imamnya serta terundur sedikit daripada imamnya. Jika sudah takbiratul ihram makmum yg dikiri itu, hendaklah maju imamnya ke hadapan atau undur kedua makmum itu ke belakang pada ketika berdiri. Maka iaitulah yg terafdhal.

Adapun jika undur makmum yg kanan terdahulu daripada takbiratul ihram makmum yg dikiri, atau tiada undur keduanya, atau undur ia lain daripada ketika berdiri maka iaitu makruh lagi luputlah dengan dia fadhilat berjama'ah. Dan jika hadir dua orang lelaki maka hendaklah keduanya berdiri bersaf dibelakang imamnya.

Dan demikian lagi apabila hadir seorang perempuan atau lebih, hendaklah ia berdiri dibelakang imam. Dan jika hadir seorang lelaki dan seorang perempuan, maka hendaklah berdiri lelaki itu dikanan imam dan berdiri perempuan itu dibelakang lelaki. Dan jika hadir dua orang lelaki dan seorang perempuan atau khunsa, maka hendaklah berdiri dua orang lelaki itu dibelakang imam dan berdiri seorang perempuan atau khunsa dibelakang dua lelaki. Dan jika hadir seorang lelaki dan khunsa dan perempuan, hendaklah berdiri lelaki itu dikanan imam dan berdiri khunsa dibelakang imam dan berdiri perempuan itu dibelakang khunsa.

(Syahdan) sunat apabila berbilang saf makmum, bahawa berdiri dibelakang imam itu sekalian lelaki yg baligh. Kemudian sudah berisi penuh saf lelaki itu, maka berdiri bersaf dibelakang mereka itu sekalian kanak-kanak. Tetapi jika terdahulu sekalian kanak-kanak lelaki kepada saf yg pertama, maka tiadalah undurkan mereka itu kepada saf yg dibelakang dari kerana kanak-kanak itu sejenis dengan lelaki yg baligh.

Bersalahan jika terdahulu khunsa atau perempuan pada saf yg pertama, maka diundurkan ia kepada saf yg dibelakang. Dan jika tiada penuh saf lelaki yg baligh itu, maka dipenuhi dengan kanak-kanak. Kemudian maka bersaf dibelakang kanak-kanak itu, sekalian khunsa. Kemudian maka berdiri dibelakang khunsa itu sekalian perempuan. Maka apabila disalahi tertib yg tersebut itu maka iaitu makruh.

Dan demikian lagi tiap-tiap sunat yg ta'alluq pada tempat perdiriannya berjama'ah, makruh menyalahinya lagi meluputkan fadhilat berjama'ah.

(Syahdan) sunat bahawa berdiri imam perempuan sama perempuan pada pertengahan saf makmum. Dan demikian lagi berdiri imam segala mereka yg bertelanjang pada pertengahan saf mereka itu. Dan hendaklah ada saf mereka itu satu saf jua supaya tiada menilik setengah mereka itu akan aurat setengahnya. Itupun jika tiada mereka itu buta dan tiada pada tempat yg kelam. Adapun jika ada sekalian mereka itu buta atau ada mereka itu didalam kelam, maka sunat bagi imamnya berdiri ke hadapan sekalian makmum.

Dan makruh bagi makmum berdiri seorang dirinya diluar saf jika diperolehnya didalam saf itu lapang. Tetapi jika tiada diperolehnya lapang didalam saf itu maka hendaklah ia takbiratul ihram diluar saf, kemudian maka sunat baginya menghilangkan seorang makmum yg didalam saf itu supaya bersaf keduanya dibelakang saf itu. Dan sunat bagi orang yg ditarik itu menurutkan orang yg menarik itu supaya diperolehnya fadhilat bertolong-tolong atas berbuat kebajikan dan takut akan Allah Taala.

Dan haram menarik itu sebelum takbiratul ihram yg menarik kerana mengeluarkan ia akan dia daripada bersaf kepada tiada saf dan menurunkan daripada saf yg diatas yg lebih kepada saf yg dibawah yg kurang.

كتاب سبيل المهتدين ٣٠-٣١
الشيخ محمد ارشد بن عبدالله البنجارى

Kitab Sabil Al Muhtadin 30-31
Syeikh Muhammad Arsyad Bin AbduLlah Al Banjari

Siri sebelumnya : Siri ٢

Fasal Pada Menyatakan Setengah Perkara Daripada Yg Ta'alluq Pada Solat

(Siri ٢) Terjemahan kepada bahasa melayu

(Syahdan) makhruh berimamkan orang yg fasik dan yg mengikut dia jika tiada ada yg lainnya sekalipun. Itupun jika tiada takut ia akan fitnah sebab meninggalkan dia.

Dan demikian lagi, makhruh berimamkan orang yg ikhlaf dan yg mengikut dia samada yg ikhlaf itu belum baligh atau sudah baligh kerana barang kali tiada hendak ia membasuh barang yg dibawah kulubnya yg wajib membasuh dia.

Dan demikian lagi, makhruh berimamkan dan mengikut orang yg bid'ah yg tiada jadi kafir ia sebab bid'ahnya. Dan jika tiada diperoleh yg lainnya sekalipun. Kata Syeikh Azra'ie, "Haram mengikut dia atas orang yg alim yg mahsyur kerana bahawasanya jadi sebab ia bagi disebutkan orang awam dengan bid'ahnya".

Adapun yg jadi kafir ia dengan bid'ahnya seperti yg beriktiqad bahawa Allah Taala tiada mengetahui akan segala juziyyat dan yg ma'dum (tiada) dan yg mengingkar akan bangkit dari dalam kubur dan berhimpunan dimahsyar.

Dan demikian lagi kaum mujassimah dan yg beriktiqad bahawa Allah Taala berjihah (berarah). Maka tiada sah mengikut dia seperti sekalian kafir yg lain. Dan demikian lagi makhruh berimamkan orang yg baba' iaitu yg membaca ب berulang-ulang. Dan orang yg fa'fa' iaitu yg membaca ف berulang-ulang. Dan orang yg wa'wa' iaitu yg membaca و berulang-ulang.

Dan dimikian lagi yg berulang-ulang membaca huruf yg lain daripada huruf yg tersebut itu. Dan makhruh berimam akan orang yg lahnu bacaannya yg tiada mengubahkan makna. Dan demikian lagi makhruh berimamkan orang yg was-was dan orang yg dikeji oleh kebanyakkan makmum akan dia.

كتاب سبيل المهتدين  ٣٩
الشيخ محمد ارشد بن عبدالله البنجارى

Kitab Sabil Al Muhtadin 39
Syeikh Muhammad Arsyad Bin AbduLlah Al Banjari