Pages

Sunday, 6 September 2015

Solat

Kuliah Subuh,
Jauhi diri daripada melakukan perkara-perkara yang mungkar dan hanya solat yang sempurna sahaja akan menjadi benteng kepada seseorang untuk menjauhi perkara yang tidak ada kebaikannya untuk agama.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya solat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan
mungkar.” -QS. Al ‘Ankabut: 45.
مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ تَنْهَهُ عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ بِهَا مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا
“Barangsiapa yang melaksanakan solat, lantas solat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” - Ath Thobari dengan sanad yang sohih dari jalur Sa’id bin Abi ‘Urubah dari Qotadah dari Al Hasan

(Ustaz Mohd Hanif)

".....We may have made the wrong choices in life or loved the wrong person previously, shed tears for the wrong reasons. But one thing for sure, mistakes help us in finding the very best for Us ......
.......Setiap episod kehidupan membawa bersama Hikmah tersembunyi, hanya hati ikhlas yang memahami.............."

Salam 1 Jannah..

WUJUD DIRIMU DALIL YANG NYATA WUJUDNYA ALLAH

Di zaman Nabi saw lagi, ada segelintir manusia munafik yang datang menemui Nabi saw untuk bertanyakan beberapa soalan agama. Tujuan kedatangan mereka sebenarnya bukan untuk beriman kepada Nabi saw, tetapi sekadar untuk tahu apakah Nabi saw boleh menjawab persoalan mereka, dan sekadar untuk menguji dengan ego keakuan.

Misalnya, ada yang meminta-minta dalil dan fakta demi menyakinkan mereka bahawa Nabi saw pernah pergi dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa lalu naik ke Langit dan pulang ke rumahnya hanya tak sampai pun dalam satu malam sahaja. Sedangkan penyataan darihal Masjidil Al Aqsa itu sahih namun hati mereka tetap terhijab dari melihat cahaya hakiki... kebenaran terhijab disebalik keakuan diri mereka.

Manusia sering meminta dalil akalnya namun ketika dihurai dengan hakikat... hati mereka masih tertutup rapat... kerana pintu kaabah sirri(hati) tetap tertutup, dan tidak sering dibuka.
Demikianlah juga, memang ada segelintir manusia yang tidak akan mengimani Yang Haq selagi tidak ada dalil dan faktanya yang dapat memuaskan akal mereka. Seolah-olah akal mereka itulah Tuhan mereka yang haq. Maka di manakah sebenarnya letak kekuatan dan kesahihan iman itu ketika akal hanya diletakkan diketinggian bukit Thursina tidak diketinggian alam melepasi Sidratul Muntaha?

Bagaimana memenuhi hasrat akal bagi mengimani Tuhan yg Zat-Nya Ghaib Mutlak, Malaikat yang halus tiada berjirim dan berjisim, Nabi-nabi yang tak pernah dilihat dek mata kecuali pengkhabaran berita yang sudah menjadi sejarah, hari akhirat serta syurga dan neraka yang ilusi dan khayal disisi akal, kitab Lauhul Mahfuz yang mencatat Qada dan Qadar yang tidak pernah terlihat dengan indera... kecuali dikhabar oleh Rasul-Nya dan diyakini dengan hati tanpa dalil yg nyata dimata akal.

"Aku dengar...aku taat..." penyataan keimanan yang tidak memerlukan dalil apapun. Percaya kepada perkara-perkara Ghaib menjadi syarat beriman kepada alam hakikat disebalik alam syariat yg kelihatan nyata...namun ada sesuatu disebalik sesuatu.

Sesungguhnya bukan dalil dan kenyataan mengenai Yang Haq itu tidak ada, tetapi ada manusia yang masih gagal untuk memandang dalil dan kenyataan itu secara terang dan tersirat. Dalil yang cukup terang ialah bagaimana Allah menzahirkan tubuh dan nyawa mereka sendiri! Adakah sifat-sifat yang nyata pada dirimu itu tidak cukup untuk memberi bukti akan hak-hak Allah Yang Haq? Adakah kamu yang mentadbir dirimu... atau selain kamu?

Apakah kamu yang tahu ketika tahumu atau dipertahukan? Apakah kamu yang hidup ketika hidupmu atau diperhidupkan? Apakah kamu punya kehendak ketika merasa berkehendak atau diperkehendakkan? Apakah kamu melihat atau diperlihatkan? Apakah kata-kata itu lahir dari kalammu atau kamu diperkatakan melalui anak lidahmu? Apakah kamu berupaya dengan kuasa dari sifatmu atau diperkuasakan? Apakah penzahiran ribuan dari sifat-sifatmu atau disifati oleh yang Maha Sempurna sifat-sifat-Nya... maka nikmat Tuhan yang mana yang hendak engkau dustakan!
Perhatikanlah dengan hati yang dalam... agar kamu tidak menjadi Tuhan yang diperintah untuk dinafikan...

(Ustaz Iqbal Zain.)

Khutbah Iblis

Imam Hasan Al-Basri rahimahullah berkata :
ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ، ﻗَﺎﻡَ ﺇِﺑْﻠِﻴْﺲُ ﺧَﻄِﻴْﺒًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﺒَﺮٍ ﻣِﻦْ ﻧَﺎﺭٍ ،
ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻋَﺪَﻛُﻢْ ﻭَﻋْﺪَ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻭَﻋَﺪْﺗُﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺧْﻠَﻔْﺘُﻜُﻢْ
"Tatkala hari kiamat Iblis berdiri di atas sebuah mimbar dari api lalu berkhutbah seraya berkata, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya…" (Tafsiir At-Thobari 16/563).

Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :
ﻳُﺨْﺒِﺮُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻋَﻤَّﺎ ﺧَﻄَﺐَ ﺑِﻪِ ﺇِﺑْﻠِﻴْﺲُ ﺃَﺗْﺒَﺎﻋَﻪُ، ﺑَﻌْﺪَﻣَﺎ ﻗَﻀَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑَﻴْﻦَ
ﻋِﺒَﺎﺩَﻩُ، ﻓَﺄﺩﺧﻞ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺕ، ﻭﺃﺳﻜﻦ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻳﻦ ﺍﻟﺪﺭﻛﺎﺕ،
ﻓﻘﺎﻡ ﻓﻴﻬﻢ ﺇﺑﻠﻴﺲ -ﻟﻌﻨﻪ ﺍﻟﻠﻪ - ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺧﻄﻴﺒﺎ ﻟﻴﺰﻳﺪﻫﻢ ﺣﺰﻧﺎ ﺇﻟﻰ
ﺣﺰﻧﻬﻢ )4 ( ﻭﻏَﺒﻨﺎ ﺇﻟﻰ ﻏﺒْﻨﻬﻢ، ﻭﺣﺴﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺣﺴﺮﺗﻬﻢ
"Allah mengkhabarkan tentang khutbah yang disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya, iaitu setelah Allah memutuskan/menghisab para hambaNya, lalu Allah memasukan kaum mukminin ke syurga, dan Allah menempatkan orang-orang kafir ke dalam neraka jahannam. Maka Iblispun tatkala itu berdiri dan berkhutbah kepada para pengikutnya agar semakin menambah kesedihan di atas kesedihan mereka, kerugian di atas kerugian, serta penyesalan di atas penyesalan…." (Tafsiir Al-Qur'an Al-'Adziim 4/489).

Khutbah tersebut disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya pada saat yang sangat tegang… tatkala mereka pertama kali dimasukkan ke dalam neraka jahannam… tatkala mereka telah melihat api yang menyala-nyala yang siap membakar mereka…!!!

Khutbah tersebut… Benar-benar masuk ke dalam hati para pengikut Iblis… Khutbah yang mengalirkan air mata mereka, khutbah yang benar-benar telah menyedarkan mereka akan kesalahan kesalahan mereka…
Khutbah yang menyedarkan mereka bahawasanya selama ini mereka hanya terpedaya oleh sang pemimpin…sang khotiib… Iblis la’natullah 'alaihi Allah menyebutkan khutbah Iblis yang sangat menyentuh tersebut:

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻟَﻤَّﺎ ﻗُﻀِﻲَ ﺍﻷﻣْﺮُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻋَﺪَﻛُﻢْ ﻭَﻋْﺪَ ﺍﻟْﺤَﻖِّ
ﻭَﻭَﻋَﺪْﺗُﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺧْﻠَﻔْﺘُﻜُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻲ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﺇِﻻ ﺃَﻥْ
ﺩَﻋَﻮْﺗُﻜُﻢْ ﻓَﺎﺳْﺘَﺠَﺒْﺘُﻢْ ﻟِﻲ ﻓَﻼ ﺗَﻠُﻮﻣُﻮﻧِﻲ ﻭَﻟُﻮﻣُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ
ﺑِﻤُﺼْﺮِﺧِﻜُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺑِﻤُﺼْﺮِﺧِﻲَّ ﺇِﻧِّﻲ ﻛَﻔَﺮْﺕُ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﺷْﺮَﻛْﺘُﻤُﻮﻧِﻲ ﻣِﻦْ
ﻗَﺒْﻞُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ ) ٢٢ (ﻭَﺃُﺩْﺧِﻞَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ
ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﺗَﺠْﺮِﻱ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬَﺎ ﺍﻷﻧْﻬَﺎﺭُ ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ
ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ) ٢٣ )
"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekadar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian yang mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih". Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka" (QS Ibrahim : 22-23).

Demikianlah khutbah Iblis tersebut….setelah ia menggoda manusia setelah menipu mereka…setelah menjerumuskan mereka dalam neraka…setelah tercapai cita citanya…lalu… Iapun berlepas diri dari para pengikutnya. Ia sama sekali tidak mahu bertanggung jawab atas godaan-godaannya…
Bahkan ia sama sekali tidak mau disalahkan dan dicela…akan tetapi ia menyuruh mereka (para pengikutnya) untuk mencela diri mereka sendiri Bahkan ia mengaku sejak dulu kufur/ingkar terhadap kesyirikan yang dilakukan oleh pengikutnya… Yang lebih menjadikan para pengikutnya tersentuh, Iblis menutup khutbahnya dengan menyatakan bahwa: Bayangkanlah jika seandainya kita menjadi pengikut Iblis dan kita dipanggang di Api Neraka, menjadi sia-sialah semua hal yang kita banggakan selama di Dunia ini...

"Sesungguhnya orang-orang zalim mendapatkan siksaan yang pedih"…
sungguh kehinaan dan kesedihan yang tidak bisa terbayangkan dalam hati para penghuni neraka tatkala mendengar khutbah dari sang pemimpin…
Lalu Iblis menyebutkan tentang kenikmatan penduduk syurga, iaitu orang-orang yang tidak mahu menjadi pengikut Iblis…!!! ..."Dan dimasukanlah orang-orang beriman dan beramal shaleh ke dalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya dengan seizin Tuhan mereka."...
bayangkanlah jika Allah menyelamatkan kita dari tipu daya Iblis, lantas Dia memasukan kita ke dalam Syurga-Nya...sungguh sirnalah semua penderitaan hidup yang kita alami di Dunia ini.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman :
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ﻓِﻲ ﻣَﻘَﺎﻡٍ ﺃَﻣِﻴﻦٍ ﻓِﻲ ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﻭَﻋُﻴُﻮﻥٍ ﻳَﻠْﺒَﺴُﻮﻥَ ﻣِﻦ
ﺳُﻨﺪُﺱٍ ﻭَﺇِﺳْﺘَﺒْﺮَﻕٍ ﻣُّﺘَﻘَﺎﺑِﻠِﻴﻦَ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻭَﺯَﻭَّﺟْﻨَﺎﻫُﻢ ﺑِﺤُﻮﺭٍ ﻋِﻴﻦٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah. Dan kami jodohkan mereka dengan bidadari bermata jeli.” [Qs. Ad-Dukhan: 51-54].

Semoga Allah menjaga kita dari rayuan Iblis…jangan sampai kita termasuk dari orang-orang yang tak tersentuh kerana khutbah Iblis ini….orang-orang yang tatkala di dunia tidak tersentuh oleh nasehat-nasehat, tidak tergerak hati mereka tatkala mendengar pengajian-pengajian dan khutbah-khutbah…hati mereka hanyalah tergerak dan tersentuh tatkala mendengar khutbah Iblis….wal'iyaadzu billah.

(Semoga Allah menambahkan taufiq dan kebenaran pada kami dan anda.
Amiin)

Ustaz Iqbal Zain

Redha Dengan Ujian

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radiyallahu’anhuma, bahawa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا
“Tidaklah seorang muslim ditimpa kepayahan, penyakit, kegoncangan, kedukaan, mahupun kesulitan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” ( Mutatafaq’alaih)
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ لَهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا
“Tidaklah seorang muslim tertimpa oleh suatu yang tidak menyenangkan, sakit atau yang lainnya, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Dan dosanya akan berguguran sebagaimana pohon menggugurkan daunnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُرِد اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, maka akan ditimpakan ujian padanya.” - HR. Al-Bukhari.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallamI bersabda:
إن عظم الجزاء مع عظم البلاء وإن الله إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله السخط
“Sesungguhnya besarnya pahala tergtantung pada besarnya ujian. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala jika mencintai suatu kaum maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang redha maka dia akan memperoleh keredhaan-Nya dan barangsiapa yang murka maka dia akan memperoleh kemurkaan-Nya.” (HR. At-Tirmidzi, - Hadis ini Hasan)

Ustaz Mohd Hanif

Kekeliruan umat

"Dizaman kita sekarang ramai yang fikir logik, katanya mana boleh berdoa bertawassul perantaraan pada Nabi Muhammad ﷺ, orang-orang soleh, orang yang dimuliakan Allah, berdoa terus pada Allah سبحانه وتعالى. Ya betul dia cakap tu betul. Tapi adakah salah ? Ini soalan saya adakah salah?"

"Seperti mana salah tak kita pergi jumpa doktor untuk minta di rawat untuk berubat sedangkan Maha Penyembuh itu adalah Allah سبحانه وتعالى. Yang menyembuhkan itu Allah سبحانه وتعالى. Kenapa pergi dekat hospital? Kenapa pergi dekat Doktor? Pergilah pada Allah سبحانه وتعالى."

"Eh, kami berusaha. Sebab Allah سبحانه وتعالى suruh berusaha." Ya, kami pun berusaha. Kalaulah angkat tangan dihadapan kubur itu dianggap syirik, maka banyaklah orang syirik hari ini kerana mengangkat tangan dihadapan ka'bah. Banyak lah orang syirik kerana angkat tangan di depan kiblat."

"Katanya tidak, saya memohon kepada Allah سبحانه وتعالى. Ya kami juga memohon kepada Allah سبحانه وتعالى cuma dengan keberkatan daripada orang solihin, pada Nabi Muhammad saw. Akan tetapi kami minta pada Allah سبحانه وتعالى seperti mana di hadapan Ka'bah kerna tempat itu adalah tempat yang penuh dengan keberkatan."

"Seperti Nabi Muhammad ﷺ di arahkan berhenti di dalam peristiwa isra' di beberapa tempat yang Nabi Muhammad di suruh solat dan doa salah satu tempatnya ialah tempat lahirnya Nabi Isa عليه السلام. Di tempat yang lain adalah tempat Nabi Musa عليه السلام memohon bermunajat kepada Allah سبحانه وتعالى."

"Bermakna di atas muka bumi ini ada tempat-tempat yang mulia dengan adanya tempat itu akan mudahnya kabul permintaan atau hajatnya seseorang. Hakikatnya minta pada Allah سبحانه وتعالى tapi tempat itu tempat yang mustajab doa."

"Patut yang kita lihat pada iktikad nya bukan dari cara perbuatannya.
Kalaulah mencium kaki itu adalah tanda syirik, maka berapa banyak ibu dan ayah yang mencium kepada kaki anaknya, main-main kaki anaknya lepas tu cium. Gurau-gurau suami isteri cium kaki, Haa syirik syirik. Eh takda lah saya cium kerna saya sayang. Haa tau pulak."

"Oleh kerna bukan dengan perbuatan itu kita terus menghukum tetapi apa sebab dia buat. Walaupun kita kata kita bukan setuju dengan apa yang di buat atau menyokong apa yang dibuat, dan kita tak minta apa yang di buat akan tetapi boleh ke tidak kita terus menghukum dengan melihat orang itu berbuat dengan perkataan syirik ataupun kafir?"

"Perlunya kita memahami, kerna hari ini banyak tuduhan sewenang-wenangnya. Hari ini kita berhadapan dengan satu fenomena buruknya memahami kepada dalil, orang sebegini menyebabkan musibah kepada pengamal-pengamal orang-orang yang beramal."

"Dia sendiri tak pandai cakap pasal dalil tapi diri sendiri bercakap atas dalil, nas, Al-quran, hadis. Tetapi mereka sendiri tak faham maka rosaklah. Jahil memahami dalil. Ini yang di katakan berfatwa tanpa ilmu dan mereka akan sesat dan menyesatkan orang lain."

"Kita memang boleh berdakwah akan tetapi, bukan semua orang boleh berfatwa. Bukan pada ahlinya. Hari ini orang ramai banyak dikelirukan oleh sebab-sebab dakwaan yg kita mesti berpegang kepada Al-quran dan sunnah tanpa melihat sumber Al-quran dan Sunnah."

"Dan berkata Al-Imam Abdullah Bin Alawi Al-Haddad lazimkan kamu dengan Al-quran sentiasa dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ tetapi ingat panduan kamu didalam mengambil Al-quran dan panduan kamu didalam mengikuti nabi ﷺ adalah dengan mengikuti Para Salafussoleh, Para Ulama dan Para Solihin dan baru kamu akan dpt panduan yg betul daripada Allah ﷻ."

"Dan inilah usaha mereka, pada hari ini yang ingin dilakukan. Ulama setelah mereka kaji iaitu golongan musuh-musuh Islam seperti Yahudi, Nasrani dan musuh-musuh Islam dan pelbagai usaha yg ingin dilakukan untuk menjatuhkan Islam."

"Dan apabila ulama ini tidak dipegang lagi dan apabila Ulama ini dijatuhkan maka manusia akan salah mengambil Al-quran. Walaupun mereka mengambil Al-quran tetapi salah, dan salah memahami hadith walaupun mereka merujuk kepada hadith. Akan tetapi memahami hadith ikut nafsu mereka. Ikut ideologi mereka. Guna hadith untuk hentam orang lain."

"Dan salah satu daripada enam perkara yang menyebabkan Ummat itu menjadi hina apabila mereka itu menyalahkan Ulama walaupun Ulama itu ada kesalahan tetapi diperbesarkan dan menutupi kepada kebaikan-kebaikan yg mereka buat."

"Jika seseorang itu untuk berdakwah, tidak diwajibkan ilmu kepadanya. Siapa saja boleh memberikan dakwah. Akan tetapi, orang yang memberi fatwa wajib adalah seseorang yang berilmu, dan berkedudukannya dalam pengetahuan ilmu yang tinggi. Mestilah pada ahlinya."

Daripada Al-Habib Najmuddin Othman Al-Khered.

BERHATI-HATILAH DENGAN ORANG-ORANG MENDATANGKAN WAS-WAS PADA DIRI KITA.. ISTIQAMAHLAH DALAM MENUNTUT ILMU..

Fitnah Golongan Jahil;

"Di akhir zaman ini, Hati-hati dengan orang-orang yang boleh mendatangkan perasaan was-was pada diri kita. Terutama sekali daripada apa yang kita lihat berlaku di media sosial. Sekarang ini, yang menyatakan pelbagai tohmahan, andaian, hujjah dan sebagainya akhirnya akan mengakibatkan hati kita dan amal kita turut berpenyakit seperti mereka."
"Cara yang paling baik adalah dengan kita sentiasa menjaga adab dan akhlak kita dengan tidak melawan kembali dengan mereka. Kita melawan balik menghentam sana sini dengan komen dan bahasa yang maaf cakap kurang sopan. Apatah lagi memerlu dan menghina mereka kerana itu menunjukkan kita tiada beza sahaja dengan mereka."
"Sebaliknya kita semakin bersemangat untuk menuntut ilmu melakukan amal soleh untuk mendekatkan hubungan kita dengan Allah سبحانه وتعالى. Bukannya merosakkan amal kita dengan apa yang sedang berlaku."

"Dalam hal-hal yang hari ini cuba ditimbulkan kembali sedangkan ianya dah selesai dah semuanya sejak daripada Para Salafussoleh dahulu. Selesai dah semua masalah dahulu apa-apa perbincangan dah selesai. Akan tetapi hari ini dinaikkan semula kerana tahu pada zaman sekarang ini, orang orang yang malas dan jahil."

"Maka mereka mengunakan kejahilan mereka dan Kemalasan orang-orang ini untuk memburuk-burukkan dan juga menghalang, membangkang ataupun mematikan sama sekali daripada kebaikan-kebaikan,gerakan-gerakan untuk membawa kepada kebaikan."

"Kita kena berhati-hati betul khususnya pada zaman ini. Yang akhirnya, akibatnya pergi kepada apa? Peperangan dan permusuhan. Sebab apa? Selalunya disifatkan kepada orang-orang yang dilabelkan dengan label-label sepeerti kafir, syirik, murtad dan sebagainya maka ia akan pergi kepada halalnya darah mereka dan boleh dibunuh.

Berlakunya peperangan yang asalnya adalah disebabkan oleh perselisihan yang digempar-gempurkan."
"Berhati-hatilah. Bentengkan diri kita dengan kita sentiasa istiqamah menuntut ilmu kerana dengan Ilmu maka kita dapat membezakan yang mana yang Haq dan yang mana yang Batil. Dengan Ilmu juga dapat mengeluarkan seseorang itu daripada kejahilan dan kegelapan kepada Cahaya yang akhirnya akan menyelamatkan diri kita sendiri khusus dengan fitnah-fitnah yang sedang berlaku di zaman kita sekarang."

-Daripada Al-Habib Najmuddin Othman Al-Khered.

KREDIT-Fb Page Raudhatul Muhibbin